Dalam dunia pencarian properti, generasi muda kini menjadi kekuatan dominan. Data menunjukkan bahwa 63,5% dari semua pencari rumah terdiri dari individu berusia antara 18 hingga 44 tahun, memperlihatkan perubahan signifikan dalam pola perilaku pencarian hunian di Indonesia.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa generasi yang lebih muda tidak hanya mencari tempat tinggal, tetapi juga mengeksplorasi berbagai pilihan dengan pendekatan yang lebih terencana dan rasional. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan hidup yang semakin kompleks dan dinamika pasar yang selalu berubah.
Pada masa kini, pencarian rumah tidak lagi dianggap sebagai tindakan impulsif. Generasi muda mulai memahami pentingnya perencanaan finansial dan strategi jangka panjang dalam membuat keputusan besar, seperti membeli atau menyewa rumah.
Pola Pencarian Hunian Generasi Muda di Indonesia
Data terbaru menunjukkan bahwa aktivitas pencarian hunian sepanjang tahun lalu didominasi oleh kelompok usia produktif. Rinciannya menunjukkan bahwa usia 18–24 tahun menyumbang 19,9 persen pencarian, diikuti oleh usia 25–34 tahun dengan 25,6 persen, dan kelompok 35–44 tahun mencapai 18 persen.
Secara total, 63,5 persen pencarian hunian berasal dari generasi Z dan millennial muda, yang menunjukkan bahwa mereka sangat aktif dalam mencari hunian yang sesuai dengan gaya hidup mereka. Namun, tingginya angka pencarian ini tidak sejalan dengan kesiapan finansial untuk membeli properti.
Bagi generasi muda, pencarian rumah lebih merupakan proses pembelajaran. Mereka membandingkan berbagai pilihan, mulai dari harga, lokasi, hingga jenis hunian, untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang keputusan finansial yang akan mereka ambil.
Perbedaan Minat Antara Gen Z dan Millennial Muda
Di kalangan generasi Z, pencarian hunian cenderung fokus pada unit kecil dengan luas di bawah 90 meter persegi. Minat mereka sangat terfokus pada harga yang terjangkau dan lokasi yang mudah diakses.
Bagi kelompok ini, pencarian hunian berfungsi sebagai pengantar untuk memahami seluk-beluk pasar properti. Mereka cenderung membandingkan harga dan jenis hunian tanpa segera berkomitmen untuk membeli.
Sementara itu, millennial muda, yang berusia 25–44 tahun, menunjukkan pendekatan yang lebih terstruktur dalam pencarian hunian. Mereka lebih cenderung mencari rumah yang lebih besar, terutama yang berukuran 91-150 meter persegi, dan mulai mempertimbangkan hunian sebagai aset untuk jangka panjang.
Fokus Pada Ukuran dan Tipe Hunian yang Realistis
Data menunjukkan bahwa mayoritas pencarian hunian terpusat pada ukuran kecil hingga menengah. Hunian dengan luas ≤60 meter persegi mencatat 22,9 persen pencarian, sedangkan ukuran 61–90 meter persegi menyumbang 16,1 persen.
Namun, ukuran hunian 91–150 meter persegi menjadi yang paling banyak dicari dengan 23,4 persen, mencerminkan kebutuhan akan ruang yang lebih besar bagi mereka yang sudah memiliki keluarga. Temuan ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih memilih hunian yang fungsional daripada sekadar simbol prestise.
Konsep hunian “cukup” menjadi semakin populer, di mana mereka mencari tempat yang fleksibel dan sesuai dengan kondisi finansial mereka saat ini. Pemilihan hunian kini lebih mempertimbangkan kelangsungan hidup jangka panjang.
Prioritas Lokasi Berdasarkan Aksesibilitas
Ketika bicara soal lokasi, pencarian hunian terbaik sepanjang tahun lalu terfokus pada wilayah-wilayah dengan aksesibilitas tinggi. Misalnya, Tangerang dan Jakarta Selatan menjadi kawasan favorit karena kemudahan transportasi dan mobilitas yang ditawarkan.
Kemudahan mobilitas dan waktu tempuh menjadi faktor utama, menggantikan pandangan lama yang lebih menekankan pada pusat kota sebagai kriteria utama. Generasi muda kini lebih pragmatis dalam memilih hunian yang mendukung produktivitas dan kualitas hidup sehari-hari.
Faktor-faktor ini menciptakan pola baru dalam memilih lokasi hunian. Generasi muda semakin cermat dalam mempertimbangkan lokasi sebagai bagian dari strategi kehidupan yang lebih besar.
Pilihan Antara Apartemen dan Rumah Tapak
Laporan juga menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pencarian hunian berupa apartemen dan rumah tapak. Dalam hal apartemen, 71,6 persen pencarian berorientasi pada sewa dibandingkan dengan hanya 28,4 persen yang berorientasi pada pembelian.
Berbanding terbalik, rumah tapak lebih seimbang, dengan hampir 50% pencarian untuk sewa dan 49,9% untuk beli. Ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki pendekatan yang lebih terbagi dalam memilih antara kedua opsi tersebut.
Pemilihan antara apartemen dan rumah tapak menunjukkan kedewasaan dalam pengambilan keputusan. Apartemen dianggap lebih fleksibel, sementara rumah tapak dinilai sebagai aset stabil untuk jangka panjang.
Implikasi untuk Pasar Properti di Masa Depan
Dengan data yang diperoleh dari pencarian hunian generasi muda, pasar properti di Indonesia diprediksi akan bergerak menuju pola yang lebih rasional dan berlandaskan kebutuhan aktual. Hal ini diharapkan menjadi acuan bagi para pelaku industri, pengembang, hingga konsumen untuk memahami arah pasar properti ke depan.
Pemahaman ini penting untuk meningkatkan keputusan strategis dalam menciptakan produk-produk hunian yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda saat ini. Keberhasilan dalam menarik perhatian generasi ini akan sangat bergantung pada adaptasi terhadap preferensi dan harapan mereka.
Generasi muda kini tidak hanya menjadi konsumen pasif, mereka adalah aktor utama dalam mengubah lanskap pasar properti di Indonesia. Keputusan mereka akan membentuk masa depan industri ini dan menggambarkan cara hidup dan nilai-nilai yang mereka anut.
