Bisnis perhotelan di Indonesia saat ini mengalami tantangan, namun ada harapan akan pulih seiring dengan kebijakan pemerintah yang lebih baik. Dalam konteks ini, sektor properti diharapkan mendapatkan kembali momentum pertumbuhannya dan menarik lebih banyak investor.
Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk, menekankan bahwa meskipun ada penurunan pendapatan, dampaknya masih dapat dikelola. Penurunan perkiraan pendapatan hotel sekitar 0,64 persen menunjukkan bahwa situasi ini masih dapat bertahan tanpa menimbulkan krisis yang lebih dalam.
Wahyu percaya bahwa kontribusi sektor hotel terhadap keseluruhan bisnis Metland tidak terlalu signifikan, hanya berkisar 10 persen. Karena itu, kelesuan yang terjadi saat ini tidak akan memberikan dampak besar bagi kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Peluang dalam Kelesuan Bisnis Perhotelan yang Sedang Terjadi
Di tengah kelesuan ini, ada peluang yang muncul dari peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara. Menurut Wahyu, peningkatan 10 persen untuk hunian hotel Metland di Bali merupakan contoh positif dari tren ini. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun ada pengurangan belanja untuk rapat di hotel, permintaan tetap ada untuk layanan perhotelan lainnya.
Selain itu, Metland Smara Hotel Kertajati juga mencatatkan peningkatan hunian sebesar 20 persen dari tahun sebelumnya. Apa yang terjadi di lapangan menunjukkan ketahanan dan adaptasi sektor perhotelan terhadap perubahan kondisi pasar yang cepat.
Sementara itu, faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dalam sektor investasi juga turut serta dalam menciptakan peluang baru. Melalui kebijakan ini, diharapkan akan ada peningkatan jumlah pengunjung yang menggunakan jasa hotel.
Investasi dan Pertumbuhan Kawasan Rebana yang Menjanjikan
Kawasan Rebana, yang meliputi Cirebon, Patimban, dan Kertajati, menjadi sorotan utama bagi investor. Wahyu menyatakan bahwa investasi ke kawasan ini sudah mulai masuk dan akan ada beberapa tenant baru yang berpartisipasi. Kontribusi mereka terhadap tingkat okupansi hotel di daerah tersebut diharapkan bakal signifikan.
Berita baik lainnya datang dari rencana realisasi MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) untuk Bandara Kertajati yang jika terealisasi tahun depan akan meningkatkan daya tarik hotel di area tersebut. Kehadiran MRO akan memperkuat fondasi layanan di Kertajati sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Investor semakin tertarik dengan prospek kawasan ini, dan ini merupakan sinyal baik bagi industri perhotelan yang berpotensi mendapatkan manfaat langsung dari peningkatan aktivitas ekonomi. Karenanya, pemangku kepentingan diharapkan dapat mengantisipasi kebutuhan yang semakin meningkat ini.
Peluang Lain yang Dihadirkan oleh Pelayanan Haji dan Umroh
Informasi terkait akan dibukanya kembali pelayanan haji dan umroh di Bandara Kertajati per Januari 2026 juga memberikan sinyal positif. Kembalinya layanan ini diharapkan akan mendatangkan arus pengunjung yang signifikan, terutama bagi hotel-hotel yang berlokasi dekat bandara.
Wahyu optimis bahwa kehadiran pelancong dari program haji dan umroh akan mendorong tingkat hunian hotel. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, layanan haji dan umroh menjadi salah satu pendorong utama permintaan kamar hotel di daerah sekitar bandara.
Diharpkan, semua langkah yang diambil akan sejalan dengan perkembangan dari kawasan Rebana, menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan untuk seluruh pihak yang terlibat, baik dari sisi bisnis maupun masyarakat lokal.
