Tren properti di Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan sejumlah perubahan signifikan. Para konsumen dalam memilih hunian semakin cerdas dan berfokus pada lokasi strategis yang memiliki mobilitas tinggi serta infrastruktur yang sudah matang.
Menjelang akhir tahun, pasar hunian sekunder cenderung mengalami penurunan yang ditunjukkan oleh stagnasi harga dan turunnya suplai. Sikap ‘wait-and-see’ dari pemilik properti maupun calon pembeli membuat pasar menjadi tenang dan terjaga pada tingkatan tertentu.
Data terbaru menunjukkan bahwa harga rumah secara nasional tercatat stagnan pada November 2025. Hal ini memicu pertanyaan mengenai arah pasar dan keputusan yang diambil oleh konsumen saat memasuki tahun baru.
Analisis Situasi Pasar Properti di Indonesia pada Akhir Tahun 2025
Dalam analisis ini, terdapat beberapa faktor yang turut memengaruhi kondisi pasar properti. Pertama, penurunan suplai hunian sekunder sebesar 0,3% secara bulanan menunjukkan banyak pemilik yang memilih untuk menunda pemasangan listing mereka.
Head of Research menyampaikan bahwa situasi stagnasi ini bukanlah tanda melemahnya permintaan, melainkan perwujudan dari kehati-hatian konsumen yang ingin menunggu momentum yang tepat. Hal ini menjelaskan ketahanan pasar yang nampak meskipun situasi saat ini tampak lesu.
Konsumen kini lebih selektif dan rasional dalam membuat keputusan, berpikir panjang dalam memilih hunian yang sesuai kebutuhan jangka panjang mereka. Salah satu hal yang mencolok adalah pemilihan lokasi yang menawarkan aksesibilitas dan konektivitas yang baik.
Kawasan yang Menjadi Incaran Pencari Hunian
Di antara kota-kota yang diminati, kawasan Tangerang menjadi sorotan utama dengan kontribusi pencarian mencapai 14,3% dari total pencarian nasional. Faktor utama di balik popularitas ini adalah kemudahan akses ke jaringan tol dan pusat bisnis.
Jakarta Selatan mengikuti dengan 12,2% pencarian, didukung oleh sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk MRT. Akses yang baik ke tol strategis membuatnya semakin menarik bagi konsumen yang menginginkan kemudahan mobilitas.
Di sisi lain, Jakarta Barat mencatat 10,9% pencarian, didorong oleh kehadiran kluster hunian baru yang menawarkan berbagai fasilitas modern. Minat tinggi pada kawasan ini menunjukkan bahwa konsumen sangat menghargai kenyamanan dan modernitas.
Fluktuasi Harga di Berbagai Kota di Indonesia
Harga rumah di berbagai kota menunjukkan pergerakan yang tidak merata. Misalnya, Bandung mencatatkan kenaikan harga bulanan tertinggi sebesar 1,0%, sementara Jakarta mengalami kenaikan tipis sebesar 0,2%. Ini menandakan adanya dinamika unik di setiap pasar daerah.
Secara tahunan, Denpasar memimpin pertumbuhan harga rumah dengan kenaikan 3,4%, diikuti oleh Medan dengan 2,1% dan Bekasi 1,5%. Hal ini menunjukkan adanya potensi bagi pasar hunian di daerah-daerah ini untuk terus tumbuh.
Namun, secara keseluruhan, suplai rumah sekunder di tingkat nasional mengalami penurunan tahunan yang signifikan hingga 8,6%. Penurunan ini mengindikasikan bahwa banyak pemilik properti memilih untuk menahan aset mereka sampai pasar dinilai lebih stabil dan menguntungkan.
Ukuran Hunian Menjadi Faktor Pertimbangan Utama
Preferensi ukuran hunian juga berperan besar dalam menentukan permintaan pasar. Rumah dengan ukuran kecil, terutama di pusat kota, mencatatkan permintaan yang terus meningkat. Permintaan untuk rumah berukuran ≤60 m² di Jakarta Pusat menunjukkan lonjakan hingga 28% secara tahunan.
Kota Bekasi menyaksikan peningkatan minat pada rumah tipe menengah, sementara Yogyakarta tetap menjadi pilihan bagi mereka yang mencari hunian berukuran besar. Demikianlah, berbagai ukuran hunian kini menjadi pertimbangan utama bagi pembeli.
Faktor lokasi, aksesibilitas, dan ukuran hunian menjadikan konsumen lebih selektif, melihat apa yang benar-benar sesuai dengan gaya hidup dan kebutuhan mereka. Kombinasi ini menciptakan pasar yang lebih dinamis dan responsif terhadap keinginan konsumen.
Prospek Pasar Hunian Indonesia di Tahun 2026
Menatap tahun 2026, sejumlah indikator menunjukkan potensi perbaikan dalam pasar hunian. Kota-kota seperti Bekasi, Medan, dan Denpasar telah mempertahankan harga yang menarik, bahkan di tengah ketidakpastian pasar nasional.
Dengan tren penurunan suku bunga dan harapan akan stabilitas ekonomi, pasar hunian bisa kembali hidup. Ini adalah kesempatan bagi konsumen untuk mengeksplorasi berbagai pilihan hunian yang mungkin sebelumnya tidak terlihat menonjol.
Seiring berjalannya waktu, pasar properti Indonesia mencerminkan konsumen yang lebih rasional dan terinformasi. Mereka kini lebih mengutamakan mobilitas serta kualitas infrastruktur, sehingga menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam waktu dekat.
Kesimpulannya, kombinasi berbagai faktor ini semua berkontribusi pada potensi pemulihan dan pertumbuhan pasar properti di Indonesia pada tahun 2026 mendatang. Prospek menghadapi tantangan tetap terbuka, dengan harapan untuk masa depan yang lebih cerah dalam industri properti.
