Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya terhadap pergeseran penggunaan lahan yang tengah terjadi di kawasan perbukitan. Di tengah peningkatan praktik pertanian, lewat hasil monitoring langsung, ia mencatat bahwa ada potensi risiko bencana alam yang cukup besar, terutama di wilayah yang baru-baru ini mengalami longsor.
Pembangunan infrastruktur dan alih fungsi lahan menjadi kebun sayuran subtropis dapat membawa konsekuensi serius bagi lingkungan setempat. Hal ini terlihat jelas di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Bandung Barat, yang sedang berusaha menanggulangi permasalahan yang lebih mendalam ini.
Pergeseran Penggunaan Lahan yang Meningkat di Kawasan Perbukitan
Alih fungsi lahan menjadi kebun sayuran, seperti kol, kubis, dan paprika, kian meluas di daerah tersebut. Tanaman-tanaman ini umumnya berasal dari daerah subtropis dan tidak asli Indonesia, sehingga memiliki karakter yang berbeda dengan tanaman lokal. Ini berpotensi mengubah struktur tanah dan meningkatkan kerentanan terhadap longsor.
Menteri juga menginformasikan bahwa banyak dari tanaman ini tumbuh pada ketinggian tertentu, di mana pertumbuhannya dapat memiliki dampak terhadap tanah di sekitarnya. Dengan meningkatnya populasi penggunaan lahan ini, ancaman bencana alam pun ikut bertambah.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren budidaya sayuran subtropis di daerah perbukitan terlihat semakin meningkat. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah yang berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan sambil tetap memberikan pangan yang cukup untuk masyarakat.
Dampak Perubahan Iklim dan Intensitas Hujan yang Berbeda
Satu faktor yang sangat penting adalah terkait dengan perubahan iklim yang mempengaruhi pola cuaca. Meskipun curah hujan di daerah tersebut terbilang ringan, namun dampak dari penggunaan lahan yang tidak tepat dapat berkontribusi pada terjadinya longsor. Menteri menekankan bahwa ini bukan masalah sepele.
Menurut analisis, akar tanaman hortikultura tidak sekuat akar pepohonan yang mampu menahan struktur tanah. Akibatnya, dalam kondisi tertentu, tanah akan lebih mudah tergelincir, terutama saat hujan.
Oleh karena itu, pendekatan ilmiah perlu diterapkan untuk memahami lebih dalam mengenai kondisi dan karakteristik tanah di wilayah tersebut. Riset harus didorong untuk memberikan data yang lebih akurat dan relevan.
Pentingnya Riset dan Pendekatan Berbasis Sains dalam Penanganan Lingkungan
Menteri secara tegas menyatakan bahwa penanganan masalah lingkungan harus berdasarkan kajian ilmiah yang komprehensif. Riset yang mendalam akan memungkinkan kita untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang faktor-faktor penyebab terjadinya longsor dan langkah-langkah mitigasi yang perlu diambil.
Dia juga mengungkapkan harapannya agar dapat menggandeng berbagai pihak, termasuk akademisi dan lembaga penelitian, untuk menyusun strategi yang tepat. Dengan demikian, keputusan yang diambil dapat didasarkan pada data dan sains, bukan hanya asumsi semata.
Kajian ini diharapkan bisa memberikan keterangan yang signifikan bagi evaluasi kebijakan lingkungan. Hasilnya pun nanti bisa menjadi referensi dalam menentukan langkah pemulihan yang tepat bagi wilayah yang terancam bencana.
