Seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kejadian tragis ini terjadi di dekat tempat tinggalnya, pondok bersama nenek yang telah berusia 80 tahun, pada Kamis (29/1) pekan lalu.
Penemuan tubuhnya mengejutkan banyak pihak dan menggugah perhatian masyarakat. Dalam proses penyelidikan, petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang menurut dugaan ditujukan untuk ibunda sang korban.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, menjelaskan bahwa surat tersebut diduga ditulis sebelum korban mengambil keputusan tragis. Pihak kepolisian mencocokkan tulisan di surat dengan buku-buku tulis milik korban dan menemukan kesamaan yang mencolok.
Surat yang ditulis dalam bahasa Ngada itu mencerminkan perasaan mendalam sang anak. Dalam isi surat, korban meminta ibundanya untuk merelakannya dan tidak merasa sedih atau mencari-carinya.
Pissort menambahkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan kejadian ini. Penyebab utamanya tampaknya berkaitan dengan tekanan hidup yang dialami oleh keluarga korban, termasuk kondisi ekonomi yang sulit.
Analisis Mendalam Mengenai Keputusan Tragis Korban
Belum lama setelah jasadnya ditemukan, petugas kepolisian mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi di sekitar lokasi. Kornelis Dopo, salah satu saksi, mengungkapkan bahwa ia melihat jasad korban saat menuju ke lokasi untuk mengikat kerbau.
Beberapa warga berbondong-bondong ke tempat kejadian setelah mendengar teriakan minta tolong dari Kornelis. Keduanya pun segera menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan penemuan tersebut dan meminta bantuan.
Gregorius Kodo dan Rofina Bera, saksi lainnya, sempat bertemu korban sebelum peristiwa tersebut. Mereka melihat korban duduk di luar pondok dan bertanya mengapa ia tidak bersekolah hari itu.
Saat itu, korban tampak murung dan tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa ia mungkin sedang menghadapi dilema batin yang cukup berat.
Pemeriksaan lebih lanjut oleh polisi mengungkap bahwa keluarga korban sedang berjuang menghadapi berbagai kesulitan hidup. Korban tinggal bersama neneknya karena situasi di rumah sangat menantang.
Kondisi Ekonomi Keluarga dan Dampaknya Terhadap Korban
Ibunda korban, MGT, menceritakan kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas. Dalam percakapan terakhir, ia mengingatkan anaknya untuk tetap rajin bersekolah meskipun situasi sulit.
Saat malam sebelum kejadian, korban menginap di rumah ibunya. Pada pagi harinya, ibunya mengantarkan korban kembali ke pondok menggunakan jasa tukang ojek.
Permintaan korban untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi karena ibunya tidak memiliki cukup uang. Ini tampaknya menambah beban emosional yang sudah ia rasakan.
Rasa kehilangan ini tidak hanya dirasakan oleh keluarganya, tetapi juga oleh masyarakat di sekitar. Banyak yang merasa kesedihan mendalam terhadap peristiwa tragis ini.
Tindakan bunuh diri di kalangan anak-anak adalah masalah serius yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Kejadian ini bisa menjadi cermin bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mental anak.
Pentingnya Dukungan Keluarga dan Masyarakat dalam Situasi Krisis
Pendidikan mental dan dukungan dari orang tua serta masyarakat sangat penting dalam proses perkembangan anak. Keluarga yang solid dapat menjadi penopang utama bagi anak-anak dalam menghadapi tantangan hidup.
Jika anak merasa tertekan atau cemas, penting bagi orang tua untuk memberikan ruang bagi mereka untuk berdialog. Komunikasi yang terbuka bisa menjadi jembatan untuk memahami masalah yang dihadapi anak.
Selain itu, masyarakat juga harus bersama-sama mengurangi stigma2 terkait kesehatan mental, agar lebih banyak anak yang mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Bantuan profesional pun harus diakses dengan mudah oleh mereka yang membutuhkan.
Keberadaan lembaga kesehatan mental di komunitas menjadi sangat penting untuk memberikan dokter dan konselor yang terlatih. Mereka bisa membantu meredakan tekanan dan memberikan solusi kepada para anak dan keluarga yang mengalami kesulitan.
Mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan positif juga bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi depresi dan meningkatkan kepercayaan diri mereka. Kegiatan-kegiatan seperti olahraga, seni, atau kelompok belajar dapat membantu melepaskan tekanan.
