Pemerintah Kabupaten Bandung Barat telah secara resmi menghentikan status tanggap darurat bencana tanah longsor yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Keputusan ini diambil setelah 14 hari berlangsungnya operasi pencarian yang intensif dimana banyak korban telah ditemukan.
Meski status tanggap darurat telah berakhir, pihak Basarnas tetap membuka kemungkinan untuk melanjutkan upaya pencarian jika ada informasi baru. Hal ini menunjukkan komitmen mereka untuk menuntaskan misi mulia dalam memberikan kejelasan kepada keluarga korban yang terdampak bencana.
“Meskipun operasi SAR telah berakhir, kami tetap siaga dan siap untuk bertindak jika ada indikasi baru,” ungkap Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, menegaskan pentingnya keberlanjutan perhatian terhadap para korban.
Evaluasi Operasi Pencarian Korban Tanah Longsor
Selama pelaksanaan Operasi SAR, tim berhasil menemukan dan mengevakuasi sebanyak 94 body pack, jauh lebih banyak dari estimasi awal yang hanya sebanyak 80. Dari jumlah tersebut, 74 korban telah berhasil diidentifikasi, memberikan kepastian bagi keluarga yang kehilangan.
Ade menjelaskan bahwa operasi ini melibatkan lebih dari 3.100 personel dari berbagai instansi, termasuk Basarnas, TNI, Polri, dan relawan. Keberadaan alat berat, drone, dan unit anjing pelacak semakin memperkuat upaya pencarian di lapangan.
Tantangan yang dihadapi selama operasi ini tidak sedikit. Luas area yang terdampak longsor mencapai 15,7 hektare, sementara kondisi cuaca dan medan yang labil seringkali menjadi hambatan. Hal ini berdampak langsung terhadap keselamatan tim di lapangan.
Transisi ke Fase Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Setelah evaluasi dari aspek keselamatan dan efektivitas pencarian, pihak terkait memutuskan untuk memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada fase ini, pemerintah daerah akan memimpin langkah-langkah perbaikan, sementara Basarnas akan terus memberikan dukungan.
Berdasarkan keputusan tersebut, koordinasi akan tetap dilakukan dengan Incident Commander serta instansi terkait agar penanganan bencana berjalan lancar. Komitmen bersama ini menjadi kunci dalam memastikan keselamatan dan pemulihan pascabencana.
Jika ada korban yang ditemukan pada tahap ini, Basarnas siap untuk segera menindaklanjuti dan menyerahkan penanganan kepada tim DVI Polri untuk proses identifikasi. Hal ini diharapkan dapat memberikan kejelasan lebih lanjut bagi keluarga korban yang masih menunggu.
Kemanusiaan sebagai Prioritas Utama
Setiap langkah yang diambil oleh pemerintah daerah dan Basarnas selalu mengedepankan nilai kemanusiaan. Ade menegaskan pentingnya hadirnya negara dalam memberikan pendampingan dan pelayanan kepada keluarga korban.
Proses administrasi dan pemenuhan hak-hak keluarga juga menjadi perhatian utama dalam fase penanganan bencana ini. Dengan cara ini, diharapkan stigma penyelesaian bencana tidak hanya dilihat dari aspek material, tetapi juga dari sudut pandang kemanusiaan.
Ade juga berharap bahwa hasil identifikasi dapat memberikan kepastian dan penutupan bagi pihak-pihak yang kehilangan orang terkasih. Dalam situasi seperti ini, dukungan mental dan emosional bagi keluarga korban menjadi sangat penting.
