Yahya Cholil Staquf, yang dikenal sebagai Gus Yahya, menyatakan bahwa ia tidak keberatan jika Muktamar Nahdlatul Ulama dipercepat pelaksanaannya. Menurutnya, hal yang terpenting adalah pelaksanaan muktamar dipimpin oleh dirinya selaku Ketua Umum bersama Rais Aam PBNU. Pernyataan ini disampaikannya selepas rapat koordinasi di gedung PBNU di Jakarta.
Gus Yahya menjelaskan bahwa muktamar sebaiknya dilaksanakan oleh kedua pihak, bukan hanya satu pihak saja. Jika tidak, menurutnya, pelaksanaan muktamar akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Dia berpendapat, sebaiknya muktamar dilakukan secara bersama-sama untuk menghindari konflik. Ia menegaskan pentingnya muktamar yang sesuai dan tidak cacat, bahkan menyatakan bahwa jika diperlukan, muktamar bisa berlangsung keesokan harinya.
Pentingnya Kepemimpinan Bersama dalam Muktamar
Dalam pandangannya, muktamar yang dipimpin oleh satu pihak saja tidak akan efektif. Hal ini akan menyebabkan konflik yang berkepanjangan dan muktamar yang tidak ideal. Gus Yahya mendesak semua pihak agar bersatu dan saling mendukung dalam pelaksanaan muktamar tersebut.
Terkait komunikasi dengan pihak lain, Gus Yahya menjelaskan bahwa belum ada kontak dengan Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, sejak rapat pleno di Hotel Sultan. Dia berharap agar komunikasi dapat terjalin demi kelancaran proses muktamar.
Gus Yahya juga mengungkapkan bahwa sebelumnya dia telah berusaha mengirimkan utusan untuk berkomunikasi dengan Rais Aam. Namun, sampai saat ini, tidak ada tanggapan dari pihak tersebut, yang dirasa menghambat komunikasi yang diperlukan.
Muktamar Harus Dilaksanakan Sebelum Iduladha Tahun Depan
Rais Syuriyah PBNU, Mohammad Nuh, juga menyatakan bahwa mereka akan segera menggelar rapat untuk menentukan jadwal Muktamar. Targetnya adalah melaksanakan muktamar sebelum atau mendekati hari raya Iduladha pada tahun depan. Pengumuman ini diharapkan bisa memberikan kejelasan bagi para anggota dan masyarakat luas terkait pelaksanaan muktamar.
Lebih lanjut, Nuh menegaskan bahwa jadwal tersebut lebih cepat satu tahun dibandingkan dengan periode lima tahun sejak muktamar yang dilaksanakan terakhir kali. Namun, ia menggarisbawahi bahwa ini bukanlah upaya mempercepat muktamar, melainkan mengembalikannya ke siklus yang semestinya.
Penundaan pelaksanaan muktamar sebelumnya, yang seharusnya dilaksanakan tepat waktu, disebabkan oleh pandemi Covid-19. Dalam konteks ini, Nuh menyebut bahwa penting untuk bergerak maju sesuai dengan siklus yang telah ditentukan.
Pentingnya Penyelesaian Masalah Sebelum Muktamar
Dalam situasi yang genting ini, Gus Yahya menekankan perlunya penyelesaian masalah yang ada sebelum muktamar dilaksanakan. Dia sepakat bahwa jika muktamar dilakukan tanpa persetujuan dan kerjasama dari semua pihak, maka hasilnya tidak akan optimal. Setiap masalah yang ada harus diselesaikan agar muktamar dapat berjalan dengan baik.
Gus Yahya juga mengundang semua pihak untuk bersama-sama mempersiapkan muktamar ini. Hal ini menunjukkan bahwa ia masih berharap ada solidaritas antaranggota dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang sama.
Hal yang paling dikhawatirkan adalah jika muktamar dilakukan dalam situasi yang tidak bersahabat atau tidak kondusif, maka itu hanya akan membebani organisasi. Oleh karena itu, langkah-langkah preventif harus segera diambil sebelum terlambat.
