Harga rumah sekunder di Indonesia menunjukkan kecenderungan stagnan di akhir tahun 2025. Penurunan minat dan ketidakpastian ekonomi menjadikan pasar properti mengalami perubahan yang signifikan dengan pertumbuhan harga yang cenderung melambat.
Sebuah laporan bulan Desember 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan harga rumah secara tahunan terkontraksi, mencerminkan penyesuaian pasar yang dihadapi. Hanya beberapa kota yang menunjukkan kenaikan harga, mencerminkan ketidakmerataan perkembangan di berbagai kawasan.
Runtuhnya suplai rumah juga menjadi faktor penting dalam perubahan ini. Indeks Suplai Rumah Sekunder menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, menandakan banyak pemilik rumah yang enggan menjual properti mereka dalam kondisi pasar yang tidak pasti.
Dalam laporan yang sama, sebagian besar pemilik properti cenderung menunggu kondisi yang lebih baik sebelum menjual aset mereka. Hal ini menambah kehadiran sikap hati-hati di kalangan konsumen yang menanti kebijakan dan suku bunga di masa depan.
Stagnasi Harga Rumah dan Penyebabnya di Akhir 2025
Di tengah ketidakpastian yang melanda pasar properti, banyak kota menghadapi tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan harga. Secara umum, pertumbuhan harga rumah secara tahunan mengalami penurunan signifikan akibat faktor-faktor ekonomi global yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya beberapa kota besar yang mencatatkan kenaikan harga yang berarti. Jakarta dan Bandung menjadi dua dari sedikit kota yang mengalami peningkatan harga, meski tetap jauh dari harapan pemulihan sebelum krisis.
Kehati-hatian di kalangan pemilik properti juga terlihat dari penurunan suplai yang berarti. Dengan adanya ekspektasi bahwa pasar belum sepenuhnya pulih, banyak pemilik memilih untuk menahan diri—mereka tidak ingin terjebak dalam penjualan di saat harga sedang tidak menguntungkan.
Namun, tidak semua kota mengalami stagnasi. Beberapa daerah, seperti Denpasar, menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata pasar. Ini memberikan sedikit harapan bagi investor dan pembeli di kawasan tersebut yang bertujuan mencari keseimbangan antara harga dan kualitas hunian.
Meskipun sebagian besar pasar mengalami stagnasi, tetap ada beberapa lokasi yang siap untuk berkembang lebih lanjut. Investor yang cerdas mungkin akan menemukan peluang di segmen-segmen tertentu yang masih menunjukkan potensi pertumbuhan.
Kota-Kota yang Menonjol dan Perkembangannya di Pasar Properti
Di antara 13 kota yang terpantau, Bandung mencatatkan kenaikan harga rumah tertinggi sebesar 1,0 persen. Sedangkan Jakarta hanya mengalami peningkatan harga sebesar 0,2 persen. Hal ini menunjukkan adanya variasi yang signifikan dalam kinerja pasar antar kota.
Satu kota yang mencolok adalah Denpasar, di mana harga rumah tumbuh sebesar 3,4 persen secara tahunan, menyaingi inflasi nasional sebesar 2,72 persen. Kepekaan pasar ini mengindikasikan tingginya minat konsumen terhadap properti di kawasan tersebut.
Dalam konteks tahunan, hanya lima kota yang berhasil mencatatkan pertumbuhan harga positif. Selain Denpasar, Medan dan Bekasi juga menunjukkan angka pertumbuhan yang cukup baik, mencerminkan ketahanan pasar di daerah-daerah tersebut meski banyak kota lain mengalami penurunan.
Sementara itu, kondisi pasar di luar pulau Jawa juga menunjukkan kinerja yang bervariasi, dengan sejumlah wilayah mendorong pertumbuhan harga positif. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi ketika berinvestasi di sektor properti.
Situasi di Denpasar juga menunjukkan bahwa minat akan properti masih kuat, meski di tengah pertumbuhan harga yang terbilang moderat. Para investor dapat melihat peluang untuk meningkatkan portofolio mereka di kawasan yang secara geografis dan ekonomi strategis.
Pengaruh Ekonomi Makro Terhadap Pergerakan Pasar Properti
Dari sisi makroekonomi, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level tertentu berfungsi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ini menciptakan kondisi yang lebih baik bagi masyarakat untuk kembali berinvestasi dalam properti meski dengan keprihatinan yang ada.
Sementara itu, laporan yang ada menunjukkan salah satu tantangan utama bagi pasar adalah daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Ini berimplikasi terhadap rendahnya minat pasar terhadap properti, ditambah dengan inflasi yang terus membayangi.
Dalam periode tujuh bulan terakhir, inflasi yang stabil di atas pertumbuhan harga rumah mengindikasikan perlunya intervensi untuk mengatasi ketidakseimbangan. Daya beli yang menurun menyebabkan pergeseran minat dari sektor properti, dan para pembeli lebih selektif dalam memilih hunian yang akan mereka beli.
Kondisi ini menuntut para pengembang dan pemilik properti untuk berinovasi dalam tawaran mereka agar lebih menarik bagi konsumen. Salah satu solusi yang mungkin adalah penyesuaian harga atau pembiayaan yang lebih fleksibel untuk menarik pembeli kembali masuk ke pasar.
Persaingan yang ketat di pasar juga mendorong pemain industri untuk tidak hanya fokus pada harga tetapi juga pada nilai tambah yang bisa diberikan. Service excellence dan aksesibilitas menjadi suatu keharusan dalam menarik minat konsumen.
