Hunian sehat kini menjadi fokus utama dalam pasar properti nasional yang terus berkembang menjelang tahun 2026. Perubahan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan aspek kualitas hidup menunjukkan bahwa hunian bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga ekosistem yang memengaruhi kesejahteraan sehari-hari.
Konsumen saat ini lebih kritis dan selektif dalam menentukan pilihan tempat tinggal mereka. Kualitas udara, kenyamanan ruang, serta aksesibilitas area kini menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan mengenai tempat tinggal.
Secara keseluruhan, konsep healthy living tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan sosial. Dengan demikian, hunian yang menyediakan lingkungan mendukung semakin banyak diminati.
Transformasi Preferensi Konsumen Terhadap Kualitas Hidup Sehari-hari
Seiring berjalannya waktu, ada perubahan signifikan dalam cara konsumen memilih hunian. Dulu, lokasi strategis dan harga yang terjangkau menjadi pertimbangan utama, kini perhatian mereka tertuju pada kualitas hidup yang ditawarkan oleh suatu kawasan.
Aspek-aspek seperti ventilasi yang baik, pencahayaan alami, dan ruang terbuka hijau kini menjadi hal-hal yang sangat diperhatikan. Tak hanya itu, konsumen juga mencari tempat tinggal yang memfasilitasi aktivitas fisik tanpa perlu keluar dari lingkungan hunian.
Lingkungan dengan nuansa hijau dan tenang semakin dianggap penting oleh keluarga muda. Ruang terbuka yang mengundang interaksi sosial berkontribusi memperbaiki kualitas hidup, memperkuat mental, dan meningkatkan kesehatan warga.
Konsumen kini sadar bahwa akses terhadap fasilitas sosial seperti taman, jalur joging, dan tempat olahraga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan mendukung gaya hidup aktif. Oleh karena itu, pilihan hunian yang mampu menawarkan ini semakin dicari.
Hunian Sehat: Faktor Penentu Minat Beli dan Sewa di Pasar
Konsep hunian sehat memiliki dampak yang semakin besar, khususnya bagi segmen keluarga muda dan kelas menengah ke atas. Bagi penyewa, fasilitas yang mendukung gaya hidup sehat seperti gym dan area hijau sering kali menjadi faktor penentu yang tidak bisa diabaikan.
Pengadaan tempat tinggal yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut memungkinkan penyewa merasa nyaman dan bersemangat menjalani gaya hidup aktif. Dengan demikian, akuisisi properti yang menawarkan kualitas tersebut dapat menjadi ‘deal maker’ dalam transaksi sewa-menyewa.
Bagi pembeli, hunian yang mendukung gaya hidup sehat dinilai memiliki nilai lebih dalam jangka panjang. Keberadaan lingkungan yang kondusif berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak dan kualitas tidur, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas mereka.
Ketika kaum milenial memilih hunian, mereka kini mempertanyakan lebih dalam, tak sekadar ‘apakah ada taman?’. Namun, mereka juga ingin memastikan apakah lingkungan dapat digunakan untuk aktivitas di luar rumah secara nyaman.
Aspek keamanan, kenyamanan fasilitas olahraga, serta keberadaan jalur pedestrian yang baik menjadi kriteria wajib yang harus dipenuhi. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam literasi properti masyarakat.
Pengaruh Hunian Sehat pada Nilai Pasar dan Likuiditas
Di pasar sekunder, hunian yang mengusung ide ramah lingkungan sering kali lebih likuid, asalkan dikelola dengan baik. Kebersihan, keamanan, serta perawatan fasilitas umum termasuk dalam faktor penting yang memengaruhi harga jual kembali properti.
Hunian dengan konsep sehat dan berkelanjutan cenderung lebih tahan terhadap perubahan yang terjadi di pasar. Bintang dari konsep ini ialah bahwa nilai-nilainya tidak hanya bersifat gaya, tetapi lebih kepada kebutuhan akan hidup sehat.
Pasar hunian yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan sosial juga lebih menarik bagi beragam segmen seperti keluarga, pekerja yang menjalani sistem kerja hybrid, hingga penyewa korporat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya strategi pemasaran yang memprioritaskan kesehatan.
Meskipun permintaan akan hunian sehat terus meningkat, penting untuk menjaga rasionalitas harga agar tetap terjangkau dan menarik bagi calon pembeli. Saat daya beli masyarakat menipis, konsumen umumnya menjadi semakin selektif dalam berinvestasi.
Melihat Tren 2026: Mixed-Use dan Hunian Terintegrasi Makin Diminati
Di tengah perkembangan yang pesat, hunian terintegrasi dalam mixed-use development menjadi favorit di kota besar seperti Surabaya. Apartemen yang menggabungkan aksesibilitas ke pusat perbelanjaan, fasilitas komersial, dan kawasan hijau sangat diminati.
Keberadaan hunian yang memadukan berbagai fasilitas memberikan kemudahan bagi penghuni dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Menurut para ahli, produk hunian semacam ini memiliki ketahanan nilai serta daya tarik yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Sementara itu, pentingnya ruang terbuka hijau di area urban tidak bisa diabaikan meski lahan terbatas. Penerapan konsep hunian sehat yang ideal yang terpadu dengan ruang terbuka hijau akan memberikan nilai lebih bagi masyarakat.
Dari perspektif pasar, hunian yang mendukung gaya hidup aktif dan sehat memiliki daya tarik serta nilai investasi yang lebih baik. Namun, potensi ini juga berarti ada penyesuaian harga terkait dengan penyediaan fasilitas optimal.
Jelas bahwa tren ini akan terus berlanjut, menandai perubahan signifikan dalam cara kita memandang dan memilih tempat tinggal yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mendukung kesejahteraan secara keseluruhan.
