Data center di seluruh dunia diprediksi akan memasuki periode supercycle hingga tahun 2030. Dalam periode ini, total investasi yang akan dialokasikan diperkirakan mencapai USD 3 triliun, menjadikannya sebagai fase pertumbuhan yang sangat signifikan dalam sektor tersebut.
Laporan terbaru tentang prospek data center global menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur digital akan meningkat pesat. Ini menjadi peluang bagi negara-negara, termasuk Indonesia, untuk berperan dalam pertumbuhan industri data center di kawasan Asia Tenggara.
Dengan pertumbuhan yang agresif diproyeksikan dalam lima tahun ke depan, sektor ini diharapkan akan mencapai kapasitas yang hampir dua kali lipat dari angka saat ini. Melihat tren tersebut, jelas bahwa data center menjadi tulang punggung ekonomi berbasis teknologi.
Proyeksi Pertumbuhan Sektor Data Center Global Hingga 2030
Dalam laporan tersebut, kapasitas global data center diperkirakan akan meningkat dari 103 gigawatt (GW) menjadi sekitar 200 GW pada tahun 2030. Perubahan ini menuntut investasi besar dalam pengembangan infrastruktur yang memadai.
Investasi yang diproyeksikan akan mencakup peningkatan nilai aset properti sebesar USD 1,2 triliun. Selain itu, pembiayaan utang baru yang diperkirakan mencapai USD 870 miliar akan menjadi faktor kunci dalam penyediaan dana untuk pengembangan tersebut.
Memasuki era supercycle, penting untuk dicatat bahwa permintaan akan kapasitas data center tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Bahkan, dengan pertumbuhan yang berkelanjutan, pasar juga diharapkan tetap sehat dan stabil tanpa risiko gelembung investasi.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Evolusi Data Center
Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa beban kerja berbasis kecerdasan buatan (AI) akan mendominasi penggunaan data center. Diperkirakan, pada tahun 2030, sekitar 50% kapasitas data center global akan digunakan untuk kebutuhan AI, meningkat tajam dari 25% pada tahun 2025.
Hal ini tidak hanya akan berdampak pada desain dan penggunaan fasilitas data center, tetapi juga pada cara penyewa berinteraksi dengan infrastruktur. Kebutuhan baru ini akan menciptakan peluang permintaan di pasar.
Dengan meningkatnya kebutuhan AI, fasilitas pelatihan untuk kecerdasan buatan akan membutuhkan daya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan data center tradisional. Ini akan menciptakan segmen pasar baru yang menarik bagi para investor.
Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Data Center di Asia Tenggara
Di Indonesia, tren pertumbuhan sektor data center mengikuti jejak global. Proyeksi menunjukkan industri nasional akan tumbuh sekitar 14% setiap tahun hingga tahun 2028, sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna internet dan pertumbuhan ekonomi digital.
Menurut analisis, permintaan data center di Indonesia diperkirakan tumbuh hingga 16,8% per tahun, menandakan bahwa sektor ini memiliki potensi yang sangat besar di masa depan. Hal ini semakin memperkuat pentingnya infrastruktur digital bagi perekonomian nasional.
JLL Indonesia mencatat bahwa investor kini lebih aktif dalam mencari peluang di sektor ini, mengingat stabilitas dan pertumbuhan yang ditawarkan. Data center kini menjadi segmen yang menarik bersamaan dengan logistik dan sektor lainnya.
Tantangan Energi dalam Pengembangan Infrastruktur Data Center
Meskipun pertumbuhan pesat di sektor ini, JLL mencatat bahwa tersedia energi menjadi tantangan utama. Rata-rata waktu tunggu koneksi listrik kini melebihi empat tahun, yang mendorong operator untuk mencari solusi alternatif.
Beberapa operator kini mulai mempertimbangkan pembangkit listrik mereka sendiri atau menerapkan skema bring your own power (BYO). Solusi ini bertujuan untuk mengatasi keterbatasan energi yang ada.
Sistem penyimpanan energi baterai dan kombinasi energi terbarukan juga diprediksi akan menjadi bagian penting dari strategi energi data center global ke depan. Hal ini diharapkan akan memperbaiki efisiensi dan keberlanjutan operasional.
