Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karyasari yang terletak di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, baru-baru ini memberikan klarifikasi terkait video viral yang menunjukkan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menggunakan kantong plastik. Kepala SPPG Karyasari, Dimas Dhika Alpiyan, menjelaskan bahwa kejadian dalam video tersebut berlangsung pada Kamis, 8 Januari, ketika mereka tengah menyiapkan menu MBG untuk kelompok penerima manfaat yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dimas menyatakan bahwa seluruh makanan telah disiapkan dan didistribusikan sesuai prosedur yang berlaku. Namun, saat makanan tiba di lokasi penerima manfaat, terjadi perubahan dalam penyajian, di mana seorang kader posyandu memindahkan makanan dari ompreng ke dalam kantong plastik tanpa koordinasi.
Kejadian ini menarik perhatian banyak pihak dan memicu perdebatan di media sosial. Dimas menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) penyajian MBG, dan mereka baru mengetahui setelah menerima laporan tentang video tersebut yang telah viral.
Kronologi Kejadian Distribusi Makanan Bergizi Gratis
Ketika ompreng tiba di lokasi, kader posyandu yang bertugas mengambil keputusan untuk memindahkan makanan ke dalam kantong plastik. Dimas menjelaskan, “Ibu kader memiliki alasan spontanitas untuk mengambil langkah tersebut.” Hal ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan sering kali tidak terduga, yang dapat memengaruhi proses distribusi.
Setelah makanan dipindahkan, kader tersebut menyerahkan makanan kepada penerima manfaat, kemudian ompreng dibawa pulang dalam keadaan kosong. Munculnya video tersebut kemudian menyebabkan pihak SPPG merasa perlu untuk menyampaikan klarifikasi kepada masyarakat.
Dimas menyampaikan bahwa pada hari Jumat, 9 Januari, mereka mengundang para kader untuk melakukan klarifikasi lebih lanjut. Pertemuan itu memberikan kesempatan bagi kader untuk menjelaskan tindakan mereka di lokasi.
Pentingnya SOP dalam Penyajian Makanan
Koordinator Kader Posyandu Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Lusi, juga memberikan penjelasan terkait situasi tersebut. Menurutnya, keadaan saat itu sangat mendesak dan cuaca yang kurang mendukung berperan dalam keputusan untuk memindahkan makanan. “Kami khawatir makanan akan terkena air hujan, sehingga kami pindahkan,” ungkap Lusi.
Meskipun alasan yang diberikan tampak logis, pihak Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa penyajian makanan dalam program MBG harus memenuhi SOP yang telah ditetapkan. Penggunaan ompreng sebagai wadah distribusi bertujuan untuk memastikan keamanan pangan dan kualitas gizi bagi seluruh penerima manfaat.
SOP ini dirancang untuk menghindari risiko yang berkaitan dengan penanganan makanan, terutama dalam konteks distribusi yang melibatkan banyak pihak. Kualitas makanan dan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama dalam program ini.
Respon Masyarakat dan Media Sosial
Video yang beredar di media sosial menciptakan momentum bagi masyarakat untuk berdiskusi tentang etika dan prosedur dalam distribusi makanan bergizi. Beberapa warganet mengekspresikan kekhawatiran mengenai keandalan program MBG akibat insiden ini. Hal ini menunjukkan pentingnya transparansi dan komunikasi yang baik antara pihak penyelenggara dan masyarakat.
Selain itu, banyak warga yang mendukung upaya klarifikasi yang dilakukan oleh SPPG Karyasari. Mereka memahami bahwa setiap kesalahan bisa terjadi, dan yang terpenting adalah adanya upaya untuk memperbaiki dan tidak mengulangi kesalahan serupa di masa depan.
Respon positif ini menjadi sinyal bahwa masyarakat masih percaya akan komitmen pihak penyelenggara dalam menjaga kualitas gizi dan pangan yang disediakan. Komunikasi yang produktif dapat membantu mengurangi kesalahpahaman dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program ini.
Langkah Selanjutnya untuk Memperbaiki Proses Distribusi
Dimas dan tim SPPG Karyasari menyatakan bahwa mereka akan lebih ketat dalam menerapkan SOP di masa mendatang, serta meningkatkan komunikasi dengan para kader posyandu. Upaya ini dianggap penting untuk menghindari kesalahan yang sama di kemudian hari.
Pihak pengelola juga akan melakukan pelatihan tambahan kepada kader posyandu agar lebih memahami pentingnya mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Semakin banyak personel yang memahami SOP dengan baik, semakin kecil kemungkinan terjadinya kesalahan dalam distribusi makanan.
Selain itu, SPPG Karyasari berencana untuk melakukan evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat pasca-penyajian. Dengan demikian, mereka berharap dapat meminimalkan risiko yang membahayakan kesehatan masyarakat, serta menjaga kualitas makanan yang dibagikan.
