Perjalanan panjang dalam pengembangan kampung susun di Jakarta mengungkap banyak cerita tentang perjuangan masyarakatnya. Diskusi dan peluncuran buku “Membangun Tanpa Menggusur: Perjuangan Kampung Susun dari Reruntuhan hingga World Habitat Award” di Urban Knowledge Hub pada 8 Mei 2026, menjadi ajang untuk merangkum kisah-kisah tersebut.
Buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga gambaran nyata proses penuh liku yang dilalui oleh warga Kampung Akuarium, Kunir, dan Bukit Duri, yang berjuang untuk mendapatkan kembali hunian layak setelah penggusuran. Melalui pendekatan partisipatif yang melibatkan banyak pihak, mereka berhasil membangun kembali tempat tinggal mereka, menunjukkan bahwa keberhasilan sosial dapat dicapai lewat kolaborasi.
Dalam buku setebal 282 halaman ini, penulis M. Azka Gulsyan dan Untung Widianto mencatat berbagai perjuangan yang dihadapi warga, termasuk tinggal di tenda darurat di atas puing-puing rumah mereka. Proses ini melibatkan ratusan pertemuan dan dialog antara berbagai pihak, menciptakan peluang untuk mengembangkan desain hunian yang sesuai berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.
Azka menekankan bahwa konstruksi kota yang manusiawi tidak harus selalu melibatkan penggusuran, terutama bagi warga miskin. Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap pembangunan menjadi kunci untuk mewujudkan harapan akan pembangunan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Dalam perbincangan itu, Azka menegaskan bahwa penghargaan yang diterima bukan sekadar untuk bangunan, melainkan untuk pengakuan atas upaya membangun secara manusiawi di Jakarta. Hal ini menjadi pendorong bagi masyarakat lain untuk mengeksplorasi cara-cara baru dalam menciptakan ruang hidup yang lebih baik.
Selain itu, model pembangunan yang diterapkan di kampung susun ini telah mendapatkan pengakuan internasional dengan meraih medali emas World Habitat Award pada tahun 2024. Penghargaan ini menunjukkan bahwa proyek pembangunan yang berbasis partisipasi tanpa menggusur warga dapat menjadi contoh baik di tingkat global.
Proses Panjang Menuju Pembentukan Kampung Susun yang Berkelanjutan
Model pembangunan kampung susun ini tidak hanya dianggap sebagai inovasi lokal, tetapi juga sebagai langkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Dengan melibatkan warga dalam merancang hunian mereka sendiri, menciptakan rasa kepemilikan yang lebih kuat dalam komunitas.
Pembangunan berkelanjutan sering kali diidentikkan dengan pendekatan yang ramah lingkungan dan sosial. Namun, di Jakarta, konteksnya lebih luas, mencakup bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial dalam setiap proyek pembangunan.
Kampung susun sebagai konsep juga memberikan solusi untuk tantangan urbanisasi yang dihadapi Jakarta, mengurangi tekanan akan kebutuhan perumahan yang terjangkau. Dalam diskusi, ditekankan pentingnya menjaga ekosistem sosial yang sudah ada, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi budaya dan identitas masyarakat.
Pembangunannya memanfaatkan metode kolaborasi yang tidak hanya melibatkan arsitek dan pemerintah, tetapi juga memperhatikan suara warga. Dialog yang terbuka dan transparan menjadi landasan kuat untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi.
Salah satu poin yang disampaikan dalam diskusi adalah pentingnya keberlanjutan ekonomi dalam proyek tersebut. Dengan adanya kampung susun, warga tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga kesempatan untuk menciptakan mata pencaharian melalui berbagai usaha kecil yang dikembangkan dalam komunitas.
Keberhasilan dan Pengakuan Internasional dalam Membangun Komunitas
Pengakuan internasional yang diperoleh melalui award merupakan pencapaian luar biasa bagi proyek kampung susun. Medali emas World Habitat Award menjadi simbol keberhasilan model pembangunan berbasis partisipasi yang berhasil dijalankan di Jakarta.
Penerimaan penghargaan ini menjadi motivasi bagi masyarakat lainnya di berbagai daerah di Indonesia untuk mengadaptasi model serupa. Mereka dapat belajar dari pengalaman tersebut, merumuskan strategi untuk menjawab tantangan perumahan yang dihadapi di kota-kota besar lainnya.
Selama peluncuran buku, beberapa tokoh penting di bidang pembangunan perkotaan juga memberikan pandangannya tentang pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap langkah pembangunan. Ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya tergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan kampung susun menjadi inspirasi penting bagi proyek lainnya. Penting bagi semua pihak untuk mengakui bahwa pembangunan tidak harus menghilangkan identitas kolektif masyarakat, tetapi justru memperkuatnya.
Kesadaran akan pentingnya partisipasi dan kolaborasi adalah langkah awal menuju perubahan yang lebih besar. Mengadopsi pendekatan yang manusiawi dan inklusif akan menghasilkan lingkungan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat.
Implikasi Sosial dan Politik dari Pembangunan Kampung Susun
Pembangunan kampung susun di Jakarta membawa implikasi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan tempat tinggal. Proyek ini juga berdampak pada dinamika sosial dan politik di sekitarnya, menciptakan kesadaran baru akan hak-hak warga yang selama ini terabaikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggusuran sering kali menjadi isu utama terkait pembangunan kota. Namun, melalui diskusi dan peluncuran buku ini, tampak bahwa ada alternatif yang lebih manusiawi dalam menangani masalah tersebut.
Warga yang terlibat dalam pembangunan kampung susun berevolusi dari sekadar penerima manfaat menjadi aktor utama dalam proses kebijakan. Hal ini memberikan mereka suara yang lebih besar dalam menentukan masa depan komunitas mereka.
Lebih dari itu, keberhasilan model ini membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat mungkin dilakukan. Jika semua pihak berkomitmen untuk berkolaborasi, dampak positifnya dapat dirasakan oleh seluruh komunitas.
Penting untuk terus memperkuat kolaborasi ini dengan menciptakan platform yang memfasilitasi dialog antara warga, pengembang, dan pemerintah. Melalui pendekatan ini, harapan untuk menciptakan kota yang lebih baik dan berkelanjutan dapat terwujud.
